|
IndonesiaTennis. Albury - Wodonga 8 Januari 2010. Setelah selesai turnamen antar tim untuk pemanasan yang dilaksanakan di 24 lapangan rumput Albury Tennis Center, tim IndonesiaTennis pada divisi 1 menduduki posisi ke empat dari 5 peserta dalam pool 3, dan para pemenang pool dipertandingkan dengan menggunakan Tie Break Point, Mark Ginting yang dijadikan pemain kedua dalam tim harus mengalami 2 kali menang dan duakali kalah dalam pertandingan 1 set normal melawan pemain unggulan 2 tim lainnya, yang pada umumnya dari KU 16 atau KU 18 dan sementara Joshua Ginting menjadi pemain ke 4 yang mendapat lawan campuran putra dan putri.
Di divisi 2 tim Combined, Bryan Husin memenang setiap pertandingannya, meski timnya juga hanya menjadi urutan 3 di pool timnya dan tidak maju ke babak final yang menggunakan Tiebreak point. Namun turnamen pemanasan ini cukup melelahkan bagi setiap pesertanya karena mendapat masing2 4 lawan yang cukup bahkan sangat tangguh.

Lapangan Tenis Rumput Wodonga yang segar tanpa pagar pembatas kiri kanan seperti lapangan rumput pada umumnya di Australia, nyaman untuk latihan ditengah terik.
Turnamen Margaret Courts Cup sendiri dimulai 8 Januari jam 8.30 dengan menggunakan 54 lapangan rumput, sehingga seluruh pertandingan hari pertama dapat selesai sore hari, yang mempertandingkan 2 pertanding untuk tunggal KU 18, 16 dan 14 Putra dan dalam pertandingan pertama, Joshua Ginting mampu melewatinya, sedangkan pada pertandingan babak kedua Josh harus mengakui keunggulan lawannya yang adalah sedeed 4 dalam turnamen ini meski dalam set terakhir berlangsung cukup ketat, sementara Bryan Husin juga harus mengakui keunggulan lawannya yang memang lebih besar matang dalam bermain. Mark Ginting sendiri yang pada turnamen sebelumnya memberi kejutan dengan menjadi finalis diatas lapangan rumput yang masih terasa aneh baginya, mendapat bye dalam babak pertama dan menghadapi sedeed 11 dalam babak kedua, yang masih dimenangkannya dengan skor yang cukup meyakinkan 6-3; 6-0.
Ditengah berlangsungnya turnamen di dua lokasi yang menggunakan total 54 lapangan rumput, Albury 24 + 4 lapangan sintetik dan Wodonga berjarak 6 km, memeiliki 30 lapangan rumput, 12 lapangan Gravel dan 4 lapangan sintetik, Kepala rombongan IndonesiaTennis mendampingi Direktur turnamen Phil Shanahan, pulang pergi meninjau kedua lokasi serta mendapat City Tour singkat kota Albury yang sangat luar biasa, memiliki 11 Klub dengan masing masing memiliki minimal 8 lapangan tenis dan tampak lapangan tenis bertebaran diseluruh penjuru kota. Dengan demikian banyak fasilitas lapangan tenis, sangat pantas kota kecil yang hanya berpenduduk 500 ribuan ini menjadi kota tenis. Kota ini sendiri menjadi sumber banyak petenis legendaris Australia, mulai dari Margaret Court pada tahun 60an, mengoleksi 62 gelar Grand Slam, single dan double. Kota ini terlihat sebagai kota pecinta tenis, sehingga mereka menganggap para petenis terlepas asal usulnya, sebagai saudara yang pantas untuk dilayani sebagai layaknya saudara.
Keramahan masyarakat tenis kota diperbatasan Victoria dan New South Wales ini, sungguh luar biasa dan terlihat tulus, serta dimotori oleh Phil Shanahan yang telah menjadi pelatih tenis sellama 30 tahun di Margaret Court Tennis Academy dan memang berasal dari keluarga petenis, termasuk Margaret Court, pemilik nama turnamen ini, menjadikan Albury sangat pantas menjadi "surga" petenis yang ingin mengembangkan tenis sekaligus karakternya sebagai manusia bagi sesama.
Termasuk petenis yuniornya, sangat ramah dan sopan, termasuk kepada orang asing, sehingga Bryan Husin yang senula dikhawatirkan akan tidak kerasan, ternyata sangat menikmati pergaulan dan keluarga tempatnya tinggal. Dan ini merupakan pengalaman yang luar biasa berharga, mendapatkan penghargaan dan ketulusan masyarakat tenis setempat, yang tidak saja akan memperkaya kemampuan tenis anggota rombongan IndonesiaTennis, sekaligus mendapatkan keakraban yang luar biasa.
IndonesiaTennis yang sudak menjelajah ke sejumlah pusat pertenisan dunia, Nick Bolletierri, Christ Evert dll, harus mengakui masyarakat pertenisan Albury Wodonga ini jauh lebih ideal , untuk menjadi pusat pelatihan petenis seutuhnya.
|