- Welcome to Indonesia Tennis Online - Selamat Datang di Dunia Maya Tenis Indonesia -Indonesia Tennis, the place for all information about Tennis in Indonesia, promotes tennis for Indonesians and international tennis community in Indonesia. Emphasizing in supporting children and youngsters to achieve the best they can be in tennis sport and academy as well, in entering tennis global community for a better future in harmony.
|
| Tenis Indonesia Membutuhkan Orang "Gila" |
| Written by IndonesiaTennis | |||
IndonesiaTennis. Jakarta 17 Nopember 2009. Sudah merupakan ungkapan sehari hari diseputar lapangan tenis ketika sejumlah orang tua berkumpul menyaksikan anak anaknya "bertempur" untuk dapat meraih posisi tertinggi di kelompoknya dengan berbagai harapan yang berbunga bunga dan sejuta kebanggaan, yang seringkali semu dalam realitanya, namun tetap terbuai dalam mimpi yang penuh harapan kedepan meski ketika situasi tidak seperti yang diharapkan, sehingga dalam kaca mata orang awam bahkan sesama rekan melihat kondisi ini sebagai "kegilaan" dan tentunya aktor utamanya otomatis disebut "gila".Untuk memajukan tenis, sangat diperlukan orang orang "gila" ini, itu dikatakan oleh "Widjojo Soejono", penggila tenis pendiri turnamen ITF Jr Widjojo Soejono yang minggu lalu digelar untuk ke 29 kalinya. Jenderal Purnawirawan Mantan Pangab Kodam Brawijaya ini, masih sangat luar biasa kejernihannya berpikir diusianya yang ke 81, hal ini terlihat dalam sambutan singkatnya pada saat pembukan turnamen bertajuk WS-SG Champs 2009 yang kali ini didukung oleh Semen Gersik untuk tahun ke 3, melihat olahraga sebagai kebudayaan yang dapat meningkatkan harkat martabat kehidupan manusia. Kecintaannya terhadap tenis masih sangat terasa sehangat sinar matahari, dengan setia tiap hari duduk menonton pertandingan yang digelar, dan dia mengatakan: "Diperlukan 'orang gila' yang mau menguras materi (mandiri), pikiran (berpendidikan tinggi) dan tenaga (sehat, kuat). Hampir semua orang tua petenis yunior akan bangga disebut "gila" terutama oleh rekan "gilanya", karena mereka sadar kegilaannya adalah merupakaan keistimewaannya yang kebanyakan orang tua lainnya tidak berani atau mampu melakukannya meski ingin. Memang tidak mudah untuk meraih prestasi di olahraga, terutama tenis, mahal, panjang dan berat. Tidak ada jalan pintas, jalan panjang dan berat itu harus disiasati sesuai dengan kondisinya masing masing yang sangat bervariasi, mulai dari "Bakul jalanan", Satpam sampai Konglomerat. Kebanyakan orangtua bermimpi untuk mendorong prestasi anaknya sampai kepuncak tertinggi, dan sering dilakukan dengan cara yang diluar kelogisan umum, seperti mengirim anak berlatih keluar negeri bertahun tahun dengan biaya yang "tidak masuk diakal", sekitar 1 milliar rupiah pertahun, (biaya sekolah dinegeri maju hanya 200-300 juta rupiah pertahun) juga ada yang mendatangkan pelatih pribadi dari Eropah dengan biaya latihan yang sudah pasti "gila" bagi orang "waras". Ada yang dalam bentuk pegawai yang sering bolos dari kantor untuk eksis disekitar lapangan latihan/turnamen atau pengusaha yang lebih senang berjemur matahari dilapangan daripada duduk diruang AC untuk melakukan deal membangun bisnis. Namun kegilaan ini sering tersadarkan oleh situasi pembinaan tenis di Indonesia, seperti yang disampaikan oleh sejumlah orang tua petenis, salah satunya orangtua petenis yunior kembar putra era 2000 awal, Prabowo/Prakoso yang memutuskan untuk menempuh jalur akademis meski mengaku telah dalam kondisi "kegilaan" ketika anaknya di SMA dengan mengabaikan sekolah demi prestasi tenis. Saat ini kesuksesan sudah diperoleh melalui sekolah di universitas "Windy city" Chicago Amerika dan sesudahnya berkarir dilingkungan pertenisan negara tetangga SIngapura dengan gaji yang membuat iri lulusan baru perguruan tinggi umumnya di Indonesia. Kegilaan sudah jelas tergambar, anak tersayang (bahkan putri), dijemur hampir setiap hari dibawah terik menyengat matahari dengan membayar biayanya dari seluruh penghasilannya sebagai prajurit, atau penjaga keamanan dll, bahkan tidak cukup, namun seringkali ditambah oleh jegalan oleh oknum institusi yang semestinya bertugas membinanya. Anak sudah setengah mati bertanding dibawah terik mentari, masih harus menderita makian dan celaan atau bahkan hukuman dari orang "gila" ini dalam berbagai bentuk karena permainannya tidak seperti yang diharapkan. Latihan keras, bakat dan cukupnya dana masih harus dibayangi oleh besarnya resiko dalam berbagai bentuk cedera pisik dan mental, yang tentunya hanya orang "gila" yang mau menanggungnya. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, Maria Sharapova adalah salah satu primadonanya, Yuri "gila" of Siberia pemenangnya. Situasi "kegilaan" tidak hanya diperlukan dilingkungan petenis yunior, tetapi ke "gila" an juga diperlukan di instansi pertenisan, sudah menguras uang dari kocek sendiri dan tidak digaji, waktu, tenaga serta pikiran, masih harus sabar menerima hujatan pula karena tidak berjalannya pembinaan prestasi seperti yang diharapkan. Namun seperti kata pepatah: "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga", karena kegilaan dalam bentuk lainnya terjadi juga diinstitusi pertenisan Indonesia, yang dimata para orang "gila" ini adalah gila sungguhan, merusak pertenisan dengan mengeksploitasi kelemahan aturan dan memanipulasi informasi untuk mendapat keuntungan pribadi serta mendapat bayaran pula, telah menyebabkan "waras" sejumlah orang "gila". Prestasi memang membutuhkan banyak para orang "gila" sejati seperti kata Widjojo Soejono, yang segelintir orang gila, tidak akan mampu membuat "sadar" mereka. Kita tunggu akan hadir "Yuri" of Indonesia.
|
Australia Tennis Wonder
8; 10; 12; 14; Yunior B&G
Single & Consolation
Info:
SMS: 0855-1130-787
Hotline: 021-964-876-22 (Esia)
Ph: 021-7152-5821*
Fax: 021-723-7923
Email: info@indotennis.com
No Rek:
Atas Nama: David Harlingan
Mandiri 070-00-10111990
BCA: 6080-289-616
V
V
Pati, 26 - 29 Maret 2009
Denpasar, 17 - 19 April 2009
Pontianak, 20 - 24 Mei 2009
JAKARTA 8 Junior 2009
Senayan, 5-7 Juni 2009:
CLAY GRANDSLAM Junior 2009
Senayan, 27 Juni - 5 Juli 2009:
KEMERDEKAAN Junior 2009
Senayan, 15-17 Agust 2009:
KETUPAT Junior 2009
Senayan, 02-04 Oktober 2009:
Transportation Main Sponsor


MASTER BINTANG JUNIOR 2008

IndonesiaTennis. Jakarta 17 Nopember 2009. Sudah merupakan ungkapan sehari hari diseputar lapangan tenis ketika sejumlah orang tua berkumpul menyaksikan anak anaknya "bertempur" untuk dapat meraih posisi tertinggi di kelompoknya dengan berbagai harapan yang berbunga bunga dan sejuta kebanggaan, yang seringkali semu dalam realitanya, namun tetap terbuai dalam mimpi yang penuh harapan kedepan meski ketika situasi tidak seperti yang diharapkan, sehingga dalam kaca mata orang awam bahkan sesama rekan melihat kondisi ini sebagai "kegilaan" dan tentunya aktor utamanya otomatis disebut "gila".


